Menjadi Professional

:)

🙂

 

p.s: Postingan kali ini curhat mode: on (gapapa lah ya, orang rumah sendiri kok, hehehe, sama numpang beredar dikit yak potonya😀 — Writer, Kate, Fithry)

 

Setiap orang memang tidak pernah tau apa yang akan terjadi pada dirinya hari ini, nanti, esok, atau kapan pun. Pun saya seperti itu juga. Berawal dari persiapan presentasi sebuah mata kuliah komunikasi. Siang harinya saya masih tertawa haha hihi menggoda anggota kelompok yang lain hingga terjungkal-jungkal, sore harinya langsung dapat azab. Kondisi tubuh tiba tiba lemah tak berdaya. Ketika yang lain teriak minta AC, saya menjerit minta selimut. Saat mereka minum es batu, saya menangis menggigil meraung raung gemetaran. Ah, penyakit musiman, biasa pikir saya saat itu.

Ternyata intuisi saya super salah. Malamnya, kepala seakan akan dihantam tiang listrik dilanjutkan palu super raksasa dan berakhir dengan sengatan jutaan pasukan lebah. Sakit sekali. Ternyata bukan sakit biasa. Tapi tetap saja, lempeng, nekat, SOK KUAT. hahaha, memang itu nama tengah saya. 

Esoknya, the show must go on. Presentasi tetap harus berlanjut. Bahkan siangnya saya tetap nekat photo session karena udah janji sama orang. Menjadi professional. Senyum pun diatur sedemikian rupa biar tidak kelihatan rapuh, padahal di dalam tubuh cairan sudah melunjak ingin dikeluarkan, tapi sudahlah, saya pasti kuat, pikir saya waktu itu.

Kata orang tua, pikiran itu pembunuh. Stress kah saya?Hmm, mungkin bisa jadi iya. Tumpukan deadline dan tanggung jawab sepertinya cukup menegangkan saraf pada saat itu. Tapi lagi lagi dasar miss keras-kepala-yang-susah-dibilangin, saya tetap saja asyik memilih menjadi last minute girl, haha. “Lebih jalan idenya” selalu menjadi alasan saya, menjadikannya pembenaran atas kebiasaan yang sebenarnya kurang baik ini.

Di jurusan saya sendiri akan ada acara akbar bagi angkatan saya yaitu AMAZCOME, sebuah family gathering bersama para senior. Saya pun memegang tugas di belakang kamera, koordinator sie dokumentasi. Terlepas dari semua sakit dan derita, saya harus tetap survive dan beraksi malam itu, yakin saya dalam hati. 

Lampu panggung pun menyala bersamaan dengan dimulainya pesta. Satu jam awal, sukses. Dua jam sampai tiga jam, aman walaupun masih mual. Lima jam, tumbang.

Pelajaran yang saya ambil adalah menjadi professional itu pada persiapan bukan pada penampilan. A bad preparation means preparing to face bad event. Jadi, untuk menjadi professional harus sehat dulu, dan sehat itu tidak instan. Pun dia harus dijaga bak kamera tercinta.

Huhuhu..Sakit sungguuuuuh tidak enak😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: