Dipaksa Bercinta

Hari ini semua orang mendadak jatuh cinta. Produksi coklat meningkat pun juga bunga dan  bingkisan-bingkisan romantis nan eksotis lainnya. Berbagai puisi berintonasi manja penuh makna diluapkan berharap sang dewi bersemu merona. Cupid menderita, semua orang berdoa dia melakukan tugasnya dengan baik, tidak salah arah, tidak salah panah.

Buat saya, hari ini hari senin biasa yang tidak ada bedanya dengan hari-hari lainnya. Terlepas dari puluhan Broadcast Message dan garis waktu di sosial media yang semua meluapkan ekspresinya terhadap kata dengan lima huruf, CINTA, itu, bagi saya tak ada yang spesial. Kata mama saya, “Dih, kelihatan banget kamu yang jomblo itu..”. Hmm, saya tidak peduli. Tenang, bukannya saya mati rasa sama pria, atau apatis sama cinta, saya cuma merasa, yaudahlah yah, udah selesai jaman unyu-unyu manja itu. Namun sepertinya, alam murka sama sikap saya itu. Hmm, atau mungkin si Cupid kecewa ada yang bersantai di hari spesialnya ini. Hari ini, seolah-olah, semesta memaksa pikiran dan tindakan saya untuk melakukan sebanyak mungkin hal konkrit berkenaan dengan kasih sayang tersebut.

Tanpa coklat, tanpa bunga, tanpa pernak-pernik unyu lainnya, hari ini saya mengasihi. Saya mengampuni.

Mengampuni itu rasanya lebih lega daripada perasaan selesai boker setelah ditahan lama pas di rush hour jalanan Lenteng Agung. Mengampuni itu rasanya manis-manis asam kaya permen nano-nano. Lucu. Rasa amarah dipaksa meluap karena dibakar api bijaksana. Mengampuni itu susah tapi tindakan paling dewasa. Detilnya apa biarlah menjadi masalah personal buat saya, karena lucu sekali bagaimana semesta ini berkonspirasi lewat kebetulan-kebetulannya yang gaib, hal-hal yang tak terencana bisa jadi nyata, yang tak terduga sangat terasa disengaja. Unik. Secara pribadi, jika dianalogikan dengan game arcade di komputer, saya baru saja naik level. Saya mengampuni.

Satu peristiwa sepertinya tidak cukup “menghajar” dan “mengajar” mereka yang menganggap remeh cinta. Berikutnya, saya lagi-lagi belajar mengasihi. Saya memberi.

Jika dikaji secara harafiah, memberi bisa memiliki banyak arti, namun yang saya maksud di sini, saya memberi kebahagiaan pada mereka yang hak untuk bahagianya sedang terkikis badai kasar. Dengan apa yang saya pribadi miliki saya dengan kerendahan dan ketulusan hati berbagi hak untuk bahagia pada sahabat saya.

Ketika menulis ini saya tersenyum, hari ini saya dipaksa bercinta, dan saya puas.

 

 

p.s. 14 Februari itu semiotika, dikaji dari simbol. Hey semesta, saya mau kok dipaksa bercinta setiap hari. Kepuasan berbanding lurus dengan peningkatan level. Semakin saya merasa puas, semakin saya belajar bahwa cinta itu bukan cuma sebatas coklat, bunga, dan bahkan, kecupan.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: