Disorientasi Kata

Kupu-kupu berterbangan di perut, kata mereka
Seperti disengat lebah raksasa, kata yang lain
Bagiku, Setali tiga uang dengan diterjang oleh jutaan volt arus kejut listrik pada ujung jemari kaki
Arteri dan vena bagai air sungai yang mengalir deras berlomba-lomba mengirimkan gelombang menuju muara
Rasanya bagai baru bertemu setan, yah mirip-mirip juga dengan saat pertama kencan
Gejolak di dada mengirimkan pesan ke kepala, responnya peluh tapi bukan keluh namun seru
Penaku bertemu tinta baru
Alat rekamku mendapat pita baru
Kameraku mendapat lensa baru
Senjataku ganti peluru
Bangga, pun juga haru
Amunisiku ini lebih tajam dari kapak berburu, lebih cepat dari kijang yang lari terburu, lebih keras dari batu, bahkan hujan pun tak bisa menjadikannya debu
Senyum mengembang hatiku senang, Pulitzer di tangan
Lelap seperti tak ingin menetap, lelah sama sekali tak terasa
Esoknya, aku bangun, sukacitaku belum turun, masih ada di puncak terujung
Terhentak dan seperti anti klimaks saat kulihat peluruku berpindah
Ah, tidak, tapi ukurannya lebih kecil
Tapi sama tajam, sama cepat, dan sama keras
Ia bertandem dengan revolver mainan milik putraku
Seperti imitasi tapi membuat jantungku sekejap berhenti, ketika ia melepas pelatuk dan tetanggaku terbatuk
Kukira memang penyakit namun heran melejit saat darah merah segar mengalir disusul suara yang menjerit, akupun bergegas bangkit
Bunyi yang kubenci datang mengiringi, sirine mengerang aktif
Seolah lantunan orkestra dengan melodi depresif
Kabar kudengar, syukur ia tidak meninggal
Hanya sempat bermain dengan tanggal
Kulirik peluruku, kutimang dan kupangku
Juniornya hampir membuat nyawa terdesak, bahkan telah merakit isak
“Apa yang bisa diperbuat raksasa ini?“, pikirku di benak
Sebuah kontemplasi menghatamku telak
Bukan peluru yang dapat diramu dengan tinta dan kertas yang menghajarku
Ternyata masih ada lisensi hati yang memegang kendali
Bergegas kubuka buku-buku
Kuperdalam ilmu berburu
Benar, katanya peluruku ini untuk membunuh
Betul, keahliannya memang nomor satu
Di bawahnya ada teks kecil, mengatakan peluru ini berbeda, aku tahu dan sesungguhnya itulah yang membuatku bangga
Tapi senyumku tertahan ketika menemukan pesan bahwa ia disorientasi arah, ia peluru yang buta, ia berlari ke manapun ia ingin pergi
Tidak, bukan ini yang kuharap
Kukira siapa di balik senjata yang berperan, seperti banyak tertulis di kaos pasaran
“man behind the gun”, begitu banyak disampaikan
Barulah ini kutemui peluru tanpa mata
Mengapa harus ada saat aku pun tengah jenuh
Sempat kuberpikir, mungkin ini satu-satunya jalan tuk buatku maju
Menjadi pembunuh
Tapi bukankah lisensi hati seperti yang kubilang tadi menjadi kokang bukan mengekang
Masa berlakunya masih panjang memang
Ia berperan sebagai besi panjang yang bisa kupegang
Senjata yang kupegang
Bukan kubiarkan terbang
Ini ideal, kalau perlu kusematkan lem baja agar senjata ini tak asal menghatam siapa
Tanganku paham apa yang ingin disentuh, siapa yang ingin dituju
Bagian yang handal dari tubuh
Istriku pun mengangguk setuju
Tentu, tanganku juga pernah membuatnya berpeluh, walaupun belakangan sudah jarang
Jika diingat memang karena kita tak punya waktu
Aku tersadar
Bukan sinar dan kerlap binar lampu panggung yang kukejar
Banyak hal lain yang jadi silau karena kilau
Aku tersadar
Bukan Pulitzer dan sederet penghargaan lain yang esensial
Banyak momen terlewat karena penat
Aku tersadar
Bukan peluru ini yang menjadikanku pembunuh nomer satu
Banyak target yang terlewat karena terkaget
Aku tersadar
Aku tak butuh senjata untuk jadi juara
Aku hanya butuh mata yang dapat membawaku ke arah
Arah yang sebenarnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: