Desolation

Seperti contoh gaya bahasa di bangku SMA,  sedih di tengah pesta, sepi di tengah kerumunan, ironi namanya.

Seperti ingin teriak karena sesak, bukan karena beban namun hanya kesepian.

Kerumunan datang dan pergi, tawa menghias hari, habis, lalu sepi.

Mungkin salah hujan, rintik menggelitik, merintih kemudian tawa terbahak mengejek, sendiri.

Juga salah Kings of Convenience yang sok justifikasi, ‘Quiet is The New Loud’, feses kucing. Dusta.

Rasa sepi bentuk despotisme paling lalim, tanpa salim sok alim.

Kalau boleh didistilasi, lebih baik sepi dimutilasi. Sakit, biar. Pahit, memang.

Tidak ingin sepi, dia datang sendiri. Tidak ingin sendu, dia menusuk mengadu, mengaku aku.

Muntahan kata tak mengubah kisah. Basahan mata tak menambah rasa. Statis.

Lebih lapang dari hati pahlawan yang dulu berjuang sekarang ditendang.

Lebih luas dari wilayah penggores kuas bermain di tembok bekas.

Detik jadi dua detik seribu detik setriliun detik, terhenti, lalu mati.

Jengah, disonansi musik buat terpekik, tercekik, koma lalu titik.

Detektif datang interogasi, lalu pulang semua punya alibi.

Dokter coba diagnosa, pergi bukan salah raga.

Psikiater buat rumusan bait syaraf mana tersayat, kelu semua jadi mayat.

Maling.

Memang dasar, dirampas otak merampas otak terampas otak.

Pencuri.

Murung, lalu sepi, lalu sendiri, lalu pedih, mati.

p.s. Betul, salahkan daftar lagu saja, memang semua salah dia, bodoh.

2 Responses to “Desolation”

  1. Bagusnya… *berdecak* Seneng bacanya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: